Tujuan pendidikan seharusnya adalah mengenal Allah SWT. Semakin kenal seseorang terhadap Allah SWT, maka orang tersebut akan semakin menyadari ‘kehadiran’-Nya dalam setiap keadaan, sehingga terlindungi dari sifat curang, mulai dari yang kecil sampai dengan yang besar.
Kedekatan dengan khaliq juga berdampak kepada semakin hebatnya daya manfaat seseorang kepada lingkungannya, karena ilmu-Nya akan mengalir deras kepada yang bersangkutan.
Sekarang ini pendidikan terlalu diarahkan ke tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi, jauh dari tujuan untuk mengenal Allah SWT. Manifestasi tujuan duniawi dapat kita lihat pada tujuan pendek pendidikan kita yang berorientasi pada nilai akademik semata (nilai akademik pun hanya untuk mengukur kekuatan menghafal), sedangkan tujuan akhirnya adalah uang dan status sosial.
Kesalahan tujuan jangka pendek pendidikan berakibat pada pendidikan yang berbasis kepada kurikulum semata dan semakin menafikkan peran guru. Ketika hal ini terjadi, guru hanya berperan sebatas sebagai pengajar (yang hanya mengajarkan materi-materi pelajaran), tidak sebagai pendidik (selain memberikan materi pelajaran, tapi juga nilai-nilai lain, seperti etika, akhlak, ruh ilmu yang diajarkan dll). Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang lebih berminat mengalokasikan dana untuk pembuatan buku-buku kurikulum yang tebal-tebal (sehingga dapat dikorup), ketimbang memperbaiki kesejahteraan para guru.
Dampak ke siswa adalah mereka berorientasi sebatas pada materi pelajaran akademik (yang berbasis kepada memorizing itu), sehingga tidak heran kita temui para siswa kita tidak sungkan-sungkan untuk mencontek ketika ujian atau doyan tawuran atau hidup secara hedonistik atau menjadi para pembangkang. Hal tersebut disebabkan tidak bersemainya nilai-nilai etika dan akhlaq pada lubuk hati mereka. Cahaya Tuhan tidak menyinari hati mereka, disebabkan para guru tidak dapat menjadi agen ilmu-Nya dengan baik; ilmu sebatas tertulis secara kering di kertas, tidak pernah menyinari para siswa (bahkan mungkin para gurunya sendiri).
Kesalahan tujuan jangka panjang pendidikan berakibat pada sifat tamak para siswa. Bagi yang mengejar uang, maka mereka terkondisi sebagai koruptor-koruptor ulung, jika bekerja di pemerintahan, dan menjadi para kapitalis yang tidak berhati nurani, jika berada di swasta. Bagi yang mengejar status sosial, misalnya dalam dunia sains dan teknologi, mereka tidak sungkan-sungkan melakukan kecurangan-kecurangan demi prestasi yang berakibat pada status sosial. Hal-hal tersebut sebagai akumulasi akibat pendidikan yang tidak berupaya menghadirkan Allah SWT. Output pendidikan sekuler menghasilkan para manusia yang tidak mengenal etika, akhlaq dan cahaya ilmu, sehingga mereka berbuat kerusakan, baik skala kecil atau pun besar.
Semoga era ini cepat berakhir …
(diambil dari blog Agung Trisetriyarso, mhs PhD Keio University)
